From One Dollar to One Billion Dollars Company

Buku - From One Dollar to One Billion Dollars CompanySaya masih ingat, ketika berstatus mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, salah seorang dosen saya menyatakan bahwa tujuan menjadi sarjana tafsir hadis bukan menjadi ahli tafsir Alquran dan hadis, tetapi justru untuk menjadi komentator hasil penafsiran orang lain. Sayang sekali, belakangan ini, makna asosiatif dari kata komentator telah rusak akibat perilaku para cenayang sepakbola yang kerap tampil kemayu di layar kaca sembari berlindung di balik sebutan komentator. Ya, mereka memang lebih tepat disebut cenayang oleh kebiasannya menebak-nebak, seperti menerka formasi apa yang akan dimainkan oleh Carlo Ancelotti, atau apakah Mou Si Mulut Besar akan memainkan Drobga pada babak kedua kala Chelsea tertinggal 2-1 dari Persib Bandung, atau, dan ini yang paling parah, berapa skor akhir pertandingan antara Persipal melawan Barcelona.

Komentator itu seharusnya seperti Rhenald Kasali. Paling kurang, demikian yang saya pahami ketika melewati halaman demi halaman dari buku yang ia tulis bersama mantan CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, yang diberi judul From One Dollar to One Billion Dollars Company. Di buku ini, Kasali tidak sedang bertindak layaknya komentator sepakbola. Ia tidak sedang menebak-nebak apa yang akan terjadi, tetapi memetakan yang sudah terjadi di perusahaan penerbangan milik negara dalam satu dekade masa kepemimpinan Satar.

Emirsyah Satar. Lelaki Minang yang menamatkan pendidikan di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia ini memang patut diberikan kredit lebih, karena telah berhasil menciptakan transformasi dengan menghidupkan kembali maskapai yang sebelumnya dianggap bangkrut menjadi perusahaan penerbangan bintang lima dan duduk di peringkat tujuh dunia. Ia tidak ragu memilih untuk bersakit-sakit demi menghidupkan kembali Garuda Indonesia, termasuk dengan melepas kenyamaan di perusahaan sebelumnya yang sanggup memberikan gaji di atas lima ratus juta untuk pindah ke Garuda yang kala itu, tahun 2005, hanya bisa menggajinya di angka yang tak sampai seratus juta.

Dengan semua yang dilakukannya selama memimpin transformasi Garuda Indonesia, Satar memang luar biasa. Ia seorang CEO dengan perkerjaan dan pencapaian yang fantastis, dimana tidak banyak orang di negeri ini yang bisa melakukan hal yang serupa. Wajar saja bila banyak orang yang lantas memintanya berbagi pengalaman saat ia memimpin Garuda. Dalam salah satu bincang-bicangnya bersama Don Bosco Selamun yang diunggah di Youtube, Satar mengakui, permintaan-permintaan itulah yang menjadi latar belakang dari kelahiran buku ini. Ia lalu mengajak koleganya yang Guru Besar di UI untuk bersama-sama menulis pengalamannya. Dari sini, lahirlah buku bermutu dengan kalimat-kalimat sarat timbangan ilmiah dari akademisi di bidang manajemen sekaligus maestro perubahan di Tanah Air, Rhenald Kasali.

Dalam menguraikan transofmasi di Garuda, Kasali tidak memilih model penyajian linear dan terkesan datar. Ia memberikan warna lewat catatan pendamping di setiap bagian buku ini yang diambil dari teori-teori manajemen yang maktub dalam tulisan-tulisan para ahli. Tentang konsep Indonesia Experience yang menjadi inti pelayanan di Garuda, misalnya, selain menggambarkan bagaimana karakter Satar yang perfeksionis dengan melibatkan pakar kuliner semisal William Wongso untuk meracik makanan khas kebudayaan Indonesia guna dimasukkan ke dalam konsep layanan di atas, Kasali tak lupa melengkapi bagian ini dengan konsep Blue Ocean Strategy yang digagas oleh W. Chan Kim. Yang menarik di sini, meski teoretis-akademis, dan ini merupakan salah satu kelebihan yang sepatutnya ditiru oleh banyak akademisi di negeri ini yang seringkali melakukan “onani” deskripsi konseptual, Kasali mampu menyajikan konsep-konsep manajemen yang rumit lewat kalimat-kalimat yang tidak membuat pembacanya sampai berkerut dahi.

Demikianlah, buku tentang transformasi Garuda menjadi perusahaan penerbangan kelas dunia tersaji dengan kaya dan apik. Niat mulia Emirsyah Satar untuk membayar hutang dengan jalan berbagi pengalaman saat menerbangkan Garuda Indonesia dari titik nadir hingga menjadi maskapai kebanggaan segenap anak negeri terbayar sudah. Terlepas dari cacat kecil yang masih menghiasi buku ini, seperti nama mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang tak tercantum pada bagian lampiran Susunan Direksi dan Komisaris Garuda Indonesia, siapapun yang ingin mengambil hikmah dari proses transformasi Garuda sepatutnya mengikra buku ini. Dan, naam, saya sama sekali tidak merasa rugi memilih buku ini sebagai pembuka koleksi buku-buku saya di tahun 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *