Membaca Sastra itu Penting

Buku - Pendidikan Karakter Berbasis SastraBukan sekali Hilda Rumambi mengungkapkan kegalauannya perihal kesusastraan di Negeri Pak Beye ini. Di matanya, pendidikan, wacana, dan ketokohan sastra Indonesia berkembang lambat, di mana hal ini bertolak belakang dengan kesusastraan di Barat. Sebagai alumni Jurusan Sastra Inggris di Universitas Sam Ratulangi, Hilda Rumambi yang akrab disapa Oma Hilda itu paham luar-dalam hal ihwal sastra Barat. Bahkan, hingga kini, ia mengaku masih suka menyambangi forum-forum sastra di dunia internet demi sekedar mengikuti semua tetek-bengek kesusastraan dunia.

Tesis Oma Hilda soal perkembangan sastra Indonesia di atas kiranya tak perlu dibantah. Jauh sebelum Sang Oma menumpahkan kegalauannya itu, di tahun 1997, Taufik Ismail lebih dulu melakukan riset sastra di tiga belas negara di dunia. Dari riset ini, Taufik sampai pada kesimpulan memilukan sekaligus memalukan: siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra. Hasil riset Taufik inilah yang menjadi sebab, yang mengantar Rohimin M. Noor menulis buku berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif.

Seperti halnya Oma Hilda, Rohimin tidak asal melempar tesis tentang urgensi pembangunan karakter bangsa lewat karya sastra. Ia mengacu pada banyak kutipan tokoh yang menekankan pentingnya sastra sebagai basis moral manusia. Mulai dari Timur hingga ke Barat. Mulai dari Umar bin al-Khattab hingga mantan Presiden Amerika, John F. Kennedy.

Secara garis besar, pembahasan dalam buku Rohimin tersebut dibagi ke dalam enam bab yang saling berhubungan satu sama lain, dan ia memulainya dari narasi tentang relasi sastra, agama, dan revolusi sosial; tiga domain yang sering dilihat tak saling berhubungan. Banyak contoh yang terungkap di sini, seperti Romo Mangunwijaya yang menilai sastra tidak bisa dilepaskan dengan religiusitas, karena sastra adalah dunia pemikiran yang menyimpan nilai-nilai kebenaran (intelectual exercise). Tak banyak pula yang tahu bahwa perjuangan umat Kristen dalam menumbangkan diktator Ferdinand Marcos terinspirasi dari sastrawan besar Filipina, seperti Gibrielle Dietrich, Waman Numbroka, E.V. Rames Periyal, Bhimrao Ambedkar, dan Arun Kamble yang menulis puisi-puisi miris di sekitar kegetiran hidup rakyat di bawah cengkraman kediktatoran Marcos. Dari soal relasi ini, Rohimin beralih ke persoalan pembentukan karakter serta pembinaan anak usia dini berbasis sastra.

Dunia anak memang sangat menarik, dan Oma Hilda juga paham betul seluk-beluk dunia anak. Mereka, anak-anak itu, memiliki ketertarikan dan potensi yang besar untuk diberi warna positif melalui pendekatan sastra, salah satunya lewat dongeng. H.G. Wahn, W. Hasse, U. Schaefer, tiga peneliti Jerman yang mengamati dunia dongeng anak, menyimpulkan bahwa anak-anak yang sering didongengi pada umumnya tumbuh menjadi anak yang lebih pandai, lebih tenang, lebih terbuka, dan lebih seimbang jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak pernah didongengi. Tidak saja berbicara perihal substansi karya sastra, Rohimin tidak lupa menawarkan teknik-teknik pembentukan karakter anak dengan pembelajaran berbasis sastra.

Aspek yang juga tidak kalah menarik dari buku Pendidikan Karakter Berbasis Sastra adalah kritik penulisnya terhadap pendidikan sastra di sekolah-sekolah kita dewasa ini lewat perbandingan dengan pembelajaran sastra di beberapa negera lain, seperti Malaysia, Jepang, dan Amerika. Ketika bibliotherapy berkembang pesat di luar negeri, sastra di negeri ini masih sering dinomorduakan sehingga imajinasi dan kreasi siswa menjadi miskin. Selain itu, mereka juga kekurangan referensi hidup dan kepekaan sosial yang seharusnya bisa dengan mudah mereka dapatkan lewat membaca karya sastra.

Membaca karya sastra itu penting. Olehnya, Umar bin al-Khattab berpesan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.” Tidak ada yang lebih penting dibanding kejujuran. Dan, saya khawatir, korupsi dan politik penuh tipu muslihat yang tiada henti di negeri ini lebih disebabkan oleh kealpaan kita membaca karya sastra. Tidak terkecuali di Kota Palu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *