Pelajaran dari Karl Marx untuk Para Lelaki

Foto Karl MarxPeter Singer boleh jadi benar ketika memposisikan Karl Marx berada di bawah Yesus dan Muhammad. Untuk mendukung penilaiannya ini, dalam Marx: A Very Short Introduction, Singer berargumen bahwa empat dari sepuluh penduduk bumi ini pernah mendengar nama Marx atau, paling kurang, hidup di bawah kekuasaan yang ideologinya beralas pada Marxisme. Tetapi, justru argumen inilah yang menjadi masalah, karena mengukur pengaruh seorang tokoh pada orang lain sejatinya bukan soal angka.

Tidak ada orang terpelajar di bidang filsafat dan ilmu sosial yang tega berbuat curang dengan menafi peran besar Marx bagi bentuk peradaban modern hingga saat kita bernafas saat ini. Hanya saja, yang penting digarisbawahi dalam persoalan besar pengaruh Marx adalah bahwa Marx juga dibesarkan oleh komunitas interpretasinya. Ketika ia wafat di London tahun 1883, pada saat yang sama, Marx telah menjadi teks dan sejak saat itu pemikirannya membentuk komunitas-komunitas interpretasi di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia. Naam, demikianlah hukumnya: tokoh yang sangat besar, seperti Yesus, Muhammad, dan Karl Marx, haruslah mempunyai komunitas interpretasi yang terdiri dari golongan besar dan dengan nama-nama besar pula.

Di sinilah garis batas harus ditetapkan oleh setiap pembaca Karl Marx: bahwa pemikiran Marx oleh Karl Marx sendiri dan pemikiran Marx versi Karl Kautsky, Lenin, Stalin, Georg Lukacs, Sukarno, Hatta, bahkan, Franz Magnis-Suseno adalah dua entitas yang berbeda. Mereka yang mengomentari pemikiran Marx sejatinya merupakan bagian dari komunitas interpretasi. Sebagaimana yang disebut Khaled Abou El Fadl, komunitas interpretasi tidak memiliki kemandirian secara historis, lebih bersandar pada prasangka historis, dan selalu berubah dan berkembang. Olehnya, Marx di tangan Sukarno dan Marx di tangan Hatta memiliki ciri khas masing-masing, meski mereka berada di level status yang sama sebagai komunitas interpretasi.

Sampai sebelum era Reformasi, masyarakat Indonesia dipaksa salah paham dengan mengira bahwa ketika disebutkan nama Marx itu serta-merta sama dengan komunisme yang ateis. Padahal, bila merujuk pada pemikiran Marx yang asli, bukan pemikiran Marx yang bersumber dari komunitas interpretasinya, Marx tidak pernah sungguh-sungguh mengesampingkan peran agama. Ia hanya menyesalkan sifat agama yang sering terlihat seperti candu, yang menjadi tempat pelarian sehingga menyebabkan manusia terasing dari sifat dasarnya: bekerja. Dalam khazanah besar pemikiran Marx, sesungguhnya, agama hanya mendapat porsi sedikit.

Dalam salah satu kesempatan diskusi kelas filsafat kontemporer yang saya ikuti di bawah asuhan Romo Hary Susanto, sambil membedakan pemikiran Marx dengan para penafsirnya seperti Lenin, dengan yakin Romo Hary berpendapat bahwa andai Marx masih hidup dan melihat buah pemikirannya ditafsirkan sedemikian rupa dan terlepas dari tujuan dasarnya yang mulia, yaitu kehadiran masyarakat tanpa kelas, niscaya Marx akan marah kepada para penafsirnya yang serupa Lenin.

Terlepas dari kekurangan yang pasti ada dalam diri setiap pribadi manusia, seperti Marx di mana pemikirannya juga tak lepas dari cela, dalam beberapa kasus, Marx layak ditiru. Paling tidak, ia adalah pribadi yang, seperti ditulis oleh Ken Budha Kusumandaru, berbakti pada apa yang ia yakini: rela hidup susah dan tanpa henti berkarya lewat pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebuah contoh bakti intelektual yang sulit ditemukan samanya di negeri ini. Di negeriku, intelektual lebih suka ngoceh daripada menulis. Atau, kalaupun menulis, tulisan itu tak berdasar pada data dan perenungan yang mendalam, karena punya udang di balik batu: menulis untuk angka kredit kepangkatan: mudah naik pangkat dan bayaran tunjangan pun berlipat.

Lebih dari itu, bagi saya, Marx adalah sosok lelaki-suami yang baik pun romantis. Kepada sang istri, Jenny, yang telah menemaninya melewati keras kehidupan Eropa pada abad ke-19, Marx menulis:

“Tentu saja banyak wanita di dunia, beberapa di antaranya cantik. Namun di mana lagi akan kudapatkan wajah yang setiap raut, bahkan setiap kerutannya, mengingatkan pada memori-memori paling indah dan manis dalam hidupku.”

Bila pernyataan itu ditafsirkan lebih luas, maka Marx seolah mau mengajarkan kepada para lelaki: bahwa memori dalam tiap lembar hidup adalah hal yang sangat berharga, yang tak boleh pudar oleh sebab kerutan yang menghias di wajah istri kita.

Andai mayoritas lelaki berperilaku bagai Marx terhadap istrinya, ada dua keuntungan yang bisa dituai. Pertama, takkan ada banyak istri menderita beban psikologis karena saban hari khawatir kelak menjadi korban poligami. Dan kedua, dan ini paling muhim, karena tiap lelaki menghargai kerutan di wajah istrinya, salon-salon kecantikan yang menawarkan krim anti penuaan dini bagi perempuan bakal gulung tikar. Percayalah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *