Studi Islam Rock and Roll

Foto Paul GilbertTulisan ringan ini terinspirasi dari salah satu video Paul Gilbert di situs berbagi video terpopuler di dunia tanpa akhirat, Youtube. Di video ini, yang nanti juga bisa kita tonton bersama di bawah tulisan ini, gitaris band Mr. Big dan Racer X ini menggambungkan teknik chicka dengan pentatonic scale.

Seperti yang diakuinya sendiri, penggabungan tersebut memang tidak lazim. Tetapi, bila tidak dilakukan, teknik bermain gitar, terutama untuk genre musik Rock and Roll, bisa mengalami jalan buntu (dead end). Dan, untuk urusan perkembangan teknik bermain alat musik gitar, Gilbert memang niscaya bertanggung jawab, karena, di samping gitaris di kedua grup musik di atas, ia juga tercatat sebagai dosen di Guitar Institute of Technology.

Tentu saja, gitar dan studi Islam tidak memiliki hubungan secara langsung. Tetapi, apa yang dilakukan Gilbert agar pola permainan gitar terhindar dari jalan buntu kiranya patut ditiru oleh siapa saja yang menjerumuskan diri di landang studi Islam. Katakanlah, menggunakan jargon umum di bidang studi Islam, apa yang dilakukan Gilbert juga merupakan bentuk “pembaruan”.

Sejak abad ke-20, sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan ketertinggalan umat Islam di semua lini, lema pembaruan (tajdid) mendadak populer. Ini berlaku secara umum di kantong-kantong dunia berpenduduk Islam, termasuk Indonesia. Beragam rumus pembaruan mendadak tersaji dari para pemikir muslim dari beragam latar belakang kebudayaan, di mana semua rumus ini dimaksudkan agar umat Islam terhindar dari jalan buntu.

Dalam konteks studi Islam, di satu sisi, sejumlah pemikir, tanpa perlu saya sebutkan satu per satu, menawarkan penggabungan studi Islam dengan teori-teori sosial-humaniora kontemporer. Sedangkan, di sisi yang lain, ada pula yang menawarkan pemurnian studi Islam lewat cara ekstrim, yaitu menolak masuknya semua anasir keilmuan modern.

Bagi saya, tawaran yang pertama, penggabungan, adalah pilihan yang ideal dengan catatan: selama tidak merusak prinsip-prinsip dasar yang sudah ada. Saya sengaja memberikan catatan ini, karena sejalan dengan apa yang dilakukan Paul Gilbert, di mana ia tidak merusak scale dasar pentatonic yang bermula dari nada A ke C ke D ke E dan seterusnya. Alih-alih merusak, oleh Gillbert, prinsip dasar pentatonic tetap dipertahankan meski dengan tambahan chicka. Hasilnya: nada pentatonic terdengar lebih seru, lebih Rock and Roll.

Bila prinsip ala Gilbert di atas coba diaplikasikan dalam studi Islam, maka tak ada salahnya jika kita menyebut ini dengan Studi Islam Rock and Roll, yaitu sebentuk model studi Islam yang bisa membuat audiensnya sedikit menikmati seni kehidupan. Bukan dengan kepala geleng-geleng, tetapi dengan kepala maju-mundur yang sesuai irama ketukan, sebagaimana yang dicontohkan Gilbert di video di bawah ini.

Dengan studi Islam Rock and Roll, mari berharap seperti harapan Gilbert, “The world will be such a better place.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *