Problem Penaggalan (Dating) Hadis

Buku - Metode Kritik HadisJudul buku: Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Penulis: Dr.Phil. Kamaruddin Amin, M.A.

Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika)

Tahun terbit: April 2009

Hanya ada satu kata kunci untuk memahami diskursus hadis di Barat:dating. Persoalan di sekitar dating ini terangkum dalam pertanyaan perihal kapan hadis pertama kali ada. Skeptitisme Barat terhadap validitas hadis sebagai bahan yang bersumber dari Nabi saw. ini kiranya wajar. Pasalnya, tidak ada satupun bukti empiris tekstual yang ditulis oleh para Sahabat yang sampai pada kita saat ini. Yang sampai pada kita, umat Islam, adalah teks-teks hadis yang ditulis pada masa sekitar abad kedua dan ketiga Hijriah.

Dalam menyikapi serta menjawab problem dating yang diajukan akademisi Barat, sarjanawan muslim pada umumnya mengajukan argumentasi tanpa ujung (circular argument). Akhirnya, kita pun gagal meyakinkan Barat, karena, lagi-lagi, kita tak punya cukup bukti.

Syukurlah, akademisi Barat tak tinggal diam lantas berpangku tangan dengan skeptitisme mereka pada keabsahan hadis. Meski sarjanawan Barat masa awal, seperti Schact, mengasumsikan hadis sebagai hasil kegiatan proyeksi ke belakang (projecting back) yang dilakukan oleh kelompok sarjana muslim pasca-Sahabat (tabi’in), sarjanawan yang muncul belakangan justru mengajukan teori yang membantah penilaian Schact tersebut. Modifikasi teori common link yang diajukan oleh Juynboll, misalnya, meski masih menyisakan setitik nila dalam sebelanga susu hadis, cukup mampu membuktikan bahwa hadis muncul pada masa-masa Islam yang lebih awal dibanding penilaian Schacht.

Dalam perkembangan berikutnya, muncullah nama Harald Motzki yang mengajukan teori ganda isnad cum matn guna menganalisa problem penanggalan hadis. Tidak seperti teori lain yang, pada umumnya, menitikberatkan pelacakan dating hadis pada aspek sanad, teori Motzki ini meletakkan sanad dan matan dalam posisi yang setara untuk dikaji guna menetapkan awal mula suatu hadis disabdakan. Teori isnad cum matn inilah yang dipilih oleh Kamaruddin Amin dalam meneliti validitas hadis-hadis tentang puasa, di mana laporan penelitian ini terdeskripsikan dengan baik dalam bukunya, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis.

Seperti yang terbaca pada judulnya, Amin memang menguji keakuratan metode-metode penelitian hadis yang ada, baik yang berlaku di kalangan sarjana muslim maupun sarjana non muslim. Ia pun dengan berani meletakkan asumsi dasar bagi penelitiannya. “Saya berpendapat bahwa setiap hadis, di mana pun ia dimuat dan setinggi apa pun ia diapresiasi oleh para sarjana, harus diteliti sebelum diberikan penilaian ilmiah apa pun terhadap ketepercayaannya,” tulis Amin (hal. 190).

Dari penelitian ini, Amin sampai pada kesimpulan bahwa metode isnad cum matnmerupakan pilihan metode yang bijak untuk digunakan dalam kajian hadis dewasa ini, karena metode ini kemampuannya dalam mengakomodasi kecenderungan kajian hadis di Barat dan di Timur. Meski metode isnad cum matn, ketika digunakan untuk meneliti hadis-hadis puasa, belum mampu membuktikan bahwa hadis tersebut sungguh disabdakan oleh Nabi Muhammad, paling tidak, metode ini menunjukkan bahwa hadis puasa sudah ditransmisikan sejak masa paling awal Islam, yakni di masa Sahabat Nabi, khususnya Abu Hurayrah.

Membandingkan lebih dari seratus hadis bertema sama dengan ragam sanad serta varian matan, tentu bukan pekerjaan yang mudah, dan Kamaruddin Amin sukses melakukannya. Buku ini telah mengisi ruang kosong yang cukup lama dalam diskursus kajian hadis di Tanah Air, meski membaca buku ini membutuhkan konsentrasi khusus. Boleh jadi, mahasiswa tingkat pertama Jurusan Tafsir Hadis sedikit berkerut dahi membaca buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *