Ragam Artikulasi Alquran di Indonesia (Catatan Kejadian di Bulan Mei 2015)

Sumber gambar: usatoday.com
Sumber gambar: usatoday.com

Shady Hekmat Nasser membuka disertasinya, The Transmission of the Variant Readings of the Qur’an, dari rumor yang berkembang di salah satu perkampungan Muslim-Sunni di Beirut pada tahun 1990-an.

Warga di perkampungan tersebut, tulis Nasser, telah menuduh Syaikh mereka menderita pikun. Dipicu oleh rasa gerah terhadap bacaan Alquran yang ia lantunkan menjelang salat subuh, mereka, para penduduk kampung, menyuruh Sang Syeikh berhenti membaca Alquran lalu mengusirnya keluar dari masjid. Dalam pandangan mereka, Syeikh itu telah menistakan kitab suci Tuhan, karena membaca salah satu kata di dalam surat al-Fatihah dengan huruf zay; bukan dengan shad sebagaimana lazimnya. “Bisakah kau membayangkan bahwa ia membaca ihdina al-zirat al-mustaqim dengan zay! Putri saya yang berusia tiga tahun bahkan bisa membaca al-Fatihah dengan benar,” kata salah seorang di antara penduduk kampung.

Pada saat kejadian di atas, Nasser mengaku belum terbiasa dengan isu-isu di seputar qiraat Alquran. Baru beberapa tahun berikutnya, setelah mendalami diskursus qiraat, ia menyadari bahwa bacaan Syaikh di atas sebenarnya merujuk pada bacaan resmi ala Hamzah bin Habib al-Zayyat, yang di Timur Tengah populer disebut bacaan Hafs atau Hafs ‘an ‘Ashim. Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan bacaan Syaikh tadi. Sebaliknya, justru penduduk perkampungan di Beirut itulah yang tidak memiliki wawasan luas perihal ragam bacaan Alquran.

Lain ladang lain belalang, lain di Beirut lain pula di Magelang. Di daerah yang dipercaya sebagai pakunya Pulau Jawa ini saya sering menjadi makmum di belakang imam Masjid al-Huda Dusun Tonogoro yang membaca al-hamd li Allah Rabb al-‘alamin dengan al-kamd li Allah Rabb al-ngalamin. Saya yakin, hakul yakin, tidak ada satupun dari tujuh versi bacaan Alquran kanonik yang membenarkan ha` diganti kaf dan ‘ayn menjadi nga. Meski demikian, sejak tiga tahun lalu dan sampai ketika saya mengetik tulisan ini, belum pernah saya mendengar masyarakat setempat mempermasalahkan bacaan tersebut. Ya, Imam Masjid al-Huda di Dusun Tonogoro kiranya perlu bersyukur, karena Magelang memang tak sama dengan Beirut.

Reaksi Minus Kompetensi

Interaksi antara umat Islam dengan kitab sucinya telah menghasilkan beragam artikulasi di ruang publik. Khusus di bulan Mei 2015 ini saja, misalnya, saya mencatat dua bentuk artikulasi yang layak kita simak. Pertama, pembacaan Alquran dengan irama Jawa (saya tidak menyebut langgam Nusantara, seperti saat bacaan ini diperkenalkan, karena Nusantara bukan hanya Jawa) pada Peringatan Isra dan Mikraj di Istana Negara (16/5); dan, kedua, ribuan Muslim yang membaca Surat Yasin di sepanjang pantai Teluk Palu, dimana kegiatan ini lantas diganjar penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia. Kegiatan yang terakhir ini, meski didapuk sebagai rekor dunia, nyatanya tidak sampai mengundang reaksi yang ramai, seperti halnya yang pertama.

Terdapat beragam komentar di media sosial tentang bacaan Alquran berirama Jawa. Ada yang mendukung dan ada yang menolak sembari menyebutnya sebagai tindak penistaan terhadap agama. Yang mengejutkan, tidak sedikit juga yang mengaitkannya dengan kinerja pemerintahan Jokowi yang belakangan ini menuai banyak kontroversi hati.

Seperti fenomena-fenomena lain yang digiring ke media sosial lalu memancing segudang komentar pengguna dari beragam latar belakang, demikian juga yang bisa kita lihat dari fenomena bacaan Alquran berirama Jawa. Ada komentator yang datang dari pengguna yang memiliki kompetensi di bidang-bidang studi Islam, terutama ilmu-ilmu Alquran (‘ulum al-Qur`an) dan qiraat; ada komentar dari pribadi-pribadi yang setengah ahli; dan tidak jarang kita temukan komentar yang datang dari orang-orang tak tahu diri, yaitu orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang studi Alquran dan, sepertinya, sangat jarang mengikra Alquran. Kalaupun membaca, maka pelafalan huruf dan panjang-pendeknya payah. Yang menyebalkan, justru komentator yang datang dari pengguna media sosial di kategori kedua dan ketiga (yang setengah ahli dan yang tak tahu diri) itulah yang sangat dominan dan memperkeruh suasana.

Terkadang, saya membayangkan ilmu keagamaan bisa seeksklusif ilmu kedokteran: orang tidak bisa seenaknya bicara tentang kanker tanpa bertanya pada ahlinya. Tetapi ilmu keagamaan memang tidak berada di wilayah sains an sich. Dan, berhubung kita hidup di negeri yang sekular tetapi malu mengakuinya secara terbuka, di mana kehidupan beragama tidak sepenuhnya diurus oleh pemerintah kecuali bila Islam terantuk isu terorisme, maka tidak ada jalan lain untuk meminimalisir komentar asal bunyi di media sosial yang berasal dari umat beragama yang setengah ahli dan yang tidak tahu diri kecuali mengajak mereka untuk tahu diri. Naam, urusan menahan diri terhadap persoalan di luar kompetensi kita memang tak semudah membalik telapak tangan.

One thought on “Ragam Artikulasi Alquran di Indonesia (Catatan Kejadian di Bulan Mei 2015)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *